Hari ini adalah hari pertama aku
masuk di Sekolah Menengah Atas Favoritku. Ya aku adalah murid kelas 10 yang
baru aja lulus dari SMP. Namaku Denantia Lusia Rivqi, anak perempuan yang
biasa-biasa aja. Rasanya masuk sekolah
baru itu grogi, nervous, dan gugup
(kayak mau tampil aja ya, hehehe). Aku pun mempersiapkan diriku sebaik mungkin
dan secantik mungkin. Memang sebaik apapun aku berdandan, aku gak akan terlihat
cantik. Ya yang penting hari ini aku terlihat rapi dan bersih.
“Selamat
pagi ibu.” Sapaku kepada ibundaku yang selalu tampil cantik dan sempurna
dimataku. Sangat berbeda denganku.
“Pagi
juga sayang. Gimana, udah siap nih ke sekolah barunya?” Tanya ibuku sambil
menuangkan susu ke gelasku.
“Sedikit
nervous bu, takut sama senior. Tapi ngrasa beruntung juga sih, tahun ini MOS
gak disuruh macem-macem.”
“Ya
wajar lah, hari pertama kok. Pokoknya hati-hati ya, jangan ceroboh lagi.” Ibu
mengingatkanku tentang kebiasaanku yang kurang berhati-hati. Bisa dibilang
sembrono gitu.
“Iya
ibu sayang, yaudah Dena berangkat dulu ya. Assalamualaikum.” Pamitku sambil
mencium tangan ibu dan segera menaiki sepeda kesayanganku.
Sesampainya
di sekolah baruku, aku segera menuju kelas baruku. Kelas X-8. Wah, jauh ya
ternyata kelasku. Dan ketika aku sampai di kelas, tenyata kelas udah rame sama
anak-anak yang bakal jadi temen belajarku. Aku segera mencari tempat duduk
kosong, kemudian menghampiri kumpulan anak-anak perempuan untuk aku ajak
berkenalan.
Bel pun
berbunyi dan aku harus segera menuju lapangan untuk upacara pembukaan MOS. Hari
ini kakak-kakak kelas 11 dan 12 juga masuk, tapi mereka bakalan pulang pagi
gara-gara sekolah dipakai MOS. Upacara pertamaku di SMA ini membuat kesan yang
mendalam buatku, petugas upacaranya itu loh keren. Bukan orangnya, tapi
kesigapannya. Wah 2 jempol deh. Pengen deh jadi salah satu petugas upacara itu.
Ah, tapi apa mungkin ?
Acara
sehabis upacara ini adalah perkenalan kakak senior, dan teman-teman sekelas.
Dan hari ini aku punya teman baru selain anak-anak perempuan yang aku ajak
kenalan tadi pagi. Dia duduk di sebelahku, namanya Gya Nahkota Antonio.
Wajahnya indo, ganteng abis. Menurut info yang aku dapet pas aku kenalan sama
dia, dia itu lulusan SMP Briliant. Wah keren banget, udah pinter ganteng pula.
Jadi bangga sendiri bisa duduk disampingnya.
“Dena,
mau langsung pulang?” Tanya Gya dengan ramah sewaktu bel pulang telah berbunyi.
“Iya,
mau istirahat. Hari ini cukup bikin capek.”
“Rumah
kamu dimana?” ujarnya lagi.
“Ya
engga aku bawa lah, rumahku kan berat.” Jawabku cuek dan sedikit berniat melucu
“Hehehe,
maksudku di daerah mana? Siapa tau kita sejalur.” Kata nya sambil tertawa
lebar.
“Oh,
bilang kek. Di komplek Orchid, tau?”
“Tau,
kan rumahku deket situ. Mau pulang bareng gak? Aku tadi dianter mobil.”
“Wah,
makasih Gya. Aku bawa sepeda kok.” Tolakku secara halus.
“Yaudah,
aku pulang dulu ya.” Pamitku kepadanya.
“Ok,
hati-hati ya.” Pesannya ketika aku meninggalkannya.
Panas.
Panas banget. Hawanya sebel terus kalau kaya gini. Tadi sampai dirumah aku
langsung aja ke dapur buka kulkas, dan menutupnya dengan kecewa soalnya gak ada
air dingin disitu. Terpaksa aku minum air putih biasa. Tapi banyaknya gak
terpaksa, haus banget soalnya. Malamnya aku sibuk membuat puisi yang ditugasin
sama kakak senior tadi di sekolah. Katanya puisi itu harus jadi di hari
terakhir dan dikasih sama teman sebangkunya. Dan malam itu ku kuras otakku
untuk menumpahkan kata-kata indah yang bisa kurangkai untuk Gya. Ya siapa lagi
kalau bukan dia? Kan dia teman sebangkuku. Tapi akhirnya aku sudahi pergelutanku
dengan tugas puisi itu. Aku ingin istirahat. Toh masih ada besok buat bikin
puisi.
Esoknya
kubuka mataku dengan ringan, tanpa beban. Tidak seperti kemarin, aku hari ini
udah lebih rileks. Kemudian aku bersiap-siap buat berangkat di Hari ke-2 MOS.
Aku heran kenapa aku bisa sangat ceria, apalagi ibu yang melihatku jauh berbeda
dengan kemarin. Ah tapi aku cuek aja, yang penting aku semangat banget hari ini
buat sekolah.
MOS
hari ini ada sedikit materi soal Wiyata Mandala, dan peraturan-peraturan di
SMAku. Tapi hari ini ada yang beda sama Gya. Ya tadi pagi dia seperti kemarin,
asik, ramah, dan suka bercanda. Tapi di jam-jam terakhir dia lebih banyak diam,
dan sama sekali gak mau ngobrol sama aku. Paling cuma jawab seadanya kalau aku
tanya. Aku yang menyadari hal itu langsung aja deh takut kalau aku punya sikap
yang dia gak suka, atau gara-gara aku jelek. Jadi badmood di jam-jam terakhir,
padahal acara yang ada harunya buat aku semangat. Dan akhirnya aku sama Gya
diem-dieman.
“ahh
dia kenapa sih? Apa aku salah? Apa kata-kataku ada yang menyinggung
perasaannya? Apa gara-gara wajahku yang gak mendukung buat duduk di
sebelahnya?” omelku di depan cermin ketika aku sampai di rumah. Kekesalanku itu
berlanjut sampai malam, dan aku membuat puisi dengan perasaan kesal, sedih dan
bingung gara-gara sikap Gya hari ini.
Sungguh sebenarnya aku
bahagia dengan hari kemarin
Ruangan ini, menjadi saksi
Pertemuan dan perkenalan yang membuat kita merasa dekat
Jabat tangan yang semakin menghangatkan suasana di antara kita
Tawa yang tercipta di sela-sela kita
Obrolan-obrolan kecil
Sungguh aku bahagia dengan semuanya
Ruangan ini, menjadi saksi
Pertemuan dan perkenalan yang membuat kita merasa dekat
Jabat tangan yang semakin menghangatkan suasana di antara kita
Tawa yang tercipta di sela-sela kita
Obrolan-obrolan kecil
Sungguh aku bahagia dengan semuanya
Gya sahabat baruku
Adakah diriku membuat salah kepadamu?
Hingga dinginnya sikapmu hari ini kau kirimkan kepadaku
Aku sadar diri
Jika diriku tak cukup elok untuk menjadi seorang sahabat untukmu
Dan aku mohon maaf atas kelancanganku itu
Adakah diriku membuat salah kepadamu?
Hingga dinginnya sikapmu hari ini kau kirimkan kepadaku
Aku sadar diri
Jika diriku tak cukup elok untuk menjadi seorang sahabat untukmu
Dan aku mohon maaf atas kelancanganku itu
Puisi
itu selesai tanpa kata-kata puitis. Menurutku itu lebih seperti catatan harian
daripada puisi. Tapi ya itu kemampuanku, aku gak mau kalau harus menahan
penasaran soal sikap Gya. Dan perasaan yang sedikit membaik gara-gara puisi itu
mengantarkanku ke tidurku. Tidur yang tak senyenyak malam sebelumnya.
Lunglai
aku menuju ke kelasku. Ragu kumasuki kelasku, dan sudah kudapati sesosok cowok
indo yang duduk di tempat duduknya. Itu dia Gya, seseorang yang misterius
buatku. Coba kulemparkan senyum termanisku saat dia bertemu pandang denganku,
tapi dia malah membuang mukanya. Huh, nyebelin banget.
Mood hari ini lebih buruk dari kemarin.
Dari pagi sampai jam terakhir ini Gya masih diam sama aku. Sebenernya aku salah
apa sih? Pertanyaan itu yang hari ini berputar terus menerus di otakku. Dan
menjelang waktu pulang, kami disuruh buat kasih puisi yang udah dibuat 2 hari
ini ke teman sebangkunya. Akupun memberikan secarik kertas yang udah aku gulung
dan aku hias dengan indah buat Gya. Ya siapa tau dengan keadaan kertas yang
cantik, dia bisa berubah seperti Gya yang pertama aku kenal. Dia juga memberiku
secarik kertas yang hanya dilipat seadanya dengan cuek. Abis itu langsung aku
keluar kelas membawa tasku, malu kalau waktu dia baca puisiku. Aku membuka
kertas pemberian Gya itu dengan perasaan berdebar, menyiapkan mental.
Pagi ini kurasa Tuhan
sangat baik kepadaku
Memberiku segunung semangat untuk menjalani hari baruku
Dan karena Tuhan telah mempertemukanku denganmu
Aku tak mampu untuk mendiskripsikan apa ini
Tapi aku bahagia berada di sekitarmu
Menyaksikan seulas senyum di wajahmu yang membuat darahku bergejolak
Merasakan sakit yang amat sangat pada hatiku
Ketika kamu mengucapkan bahwa kamu ingin aku menjadi sahabatmu
Dan aku yang dingin ini
Bukan aku membencimu
Tapi aku takut jika rasaku tak dapat terbendung lagi dalamnya
Taukah kamu wahai bintang kecilku
Aku menyayangimu, lebih dari seorang sahabat karibmu
Mungkin waktu sangat singkat, tapi getaran itu telah hadir
Dan menginginkanmu untuk menjadi kekasih hatiku
Memberiku segunung semangat untuk menjalani hari baruku
Dan karena Tuhan telah mempertemukanku denganmu
Aku tak mampu untuk mendiskripsikan apa ini
Tapi aku bahagia berada di sekitarmu
Menyaksikan seulas senyum di wajahmu yang membuat darahku bergejolak
Merasakan sakit yang amat sangat pada hatiku
Ketika kamu mengucapkan bahwa kamu ingin aku menjadi sahabatmu
Dan aku yang dingin ini
Bukan aku membencimu
Tapi aku takut jika rasaku tak dapat terbendung lagi dalamnya
Taukah kamu wahai bintang kecilku
Aku menyayangimu, lebih dari seorang sahabat karibmu
Mungkin waktu sangat singkat, tapi getaran itu telah hadir
Dan menginginkanmu untuk menjadi kekasih hatiku
DEG !!!
jantungku berdetak cepat. Aku tak menyangka Gya punya perasaan seperti itu. Dan
kutoleh kebelakang, di pintu kelas X-8. Ada sosok Gya Nahkota Antonio yang
sedang mengawasiku. Apakah puisi ini memerlukan jawaban? Aku tak tahu. Aku
bingung dengan keajaiban di 3 hari ini.


0 komentar:
Posting Komentar